Header Ads

Kesenian Wayang Kulit Antara Sejarah, Filsafat dan Gambaran Peradaban Manusia

BUDAYA - Siapa yang tak kenal dengan wayang kulit, sebuah kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Jawa. Sejak jaman dahulu bahkan hingga saat ini masih mempunyai daya tarik dan aura mistis serta menyimpan seribu misteri. Kesenian ini banyak ditampilkan ketika ada sebuah perhelatan seperti pesta dan sebagainya. Ternyata, wayang kulit tidak hanya dijadikan sebagai sebuah pertunjukan melainkan juga digunakan sebagai media untuk permenungan menuju roh spiritual para dewa.

Asal mula kesenian wayang kulit ini, tidak lepas dari sejarah wayang itu sendiri. Wayang yang berasal dari sebuah kalimat yang berbunyi “Ma Hyang” yang berarti berjalan menuju yang maha tinggi (bisa diartikan sebagai roh, Tuhan, ataupun Dewa). Akan tetapi, sebagian orang mengartikan bahwa wayang berasal dari bahasa jawa yang berarti bayangan. Di zaman dulu, oleh Sunan Kalijaga, wayang kulit menjadi sarana media untuk menyebarkan ajaran Islam di tanah jawa yang di ramu secara berpaduan antara ajaran Islam dan budaya Jawa.

Keberadaan wayang sudah sejak berabad-abad  sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.

Dalam Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In­donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem­perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan. Maka dari itu, wayang kulit adalah sebuah gambaran hidup yang mencermikan bahwa kehidupan ini tidaklah sempurna. Maka dari itu dalam menjalani hidup kita hendaklah belajar mawas diri dan selalu rendah hati. Karena pada prisnsipnya, makhluk tak akan luput dari kesalahan. (Dian Anggraini)

No comments

Powered by Blogger.