Header Ads

Inilah Asal Mula Kisah Puno Kawan Yang Hingga Saat Ini Masih Melegenda

Budaya,TM - Puno Kawan, adalah sosok lakon yang sering di tampilkan dalam dunia pewayangan. Namun tak banyak masyarakat di era modern seperti ini yang mengetahuinya. Kali ini perbincangan TM dengan sosok praktisi spiritual asal Magelang yang akrab di sapa dengan Mbah Karto Sasmito.

Saat di sambangi team TM, Mbah Karto sedikit mengulas tentang asal-usul Puno Kawan.
Begini ceritanya, Puno Kawan pada zaman dulunya di ciptakan oleh Sunan Kalijogo dalam syi'arnya untuk menyebarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat di Tanah Jawa.

"Puno Kawan pada zaman akhir abad 15 di mana pada saat itu masa transisi kerajaan Majapahit, yang selanjutnya roda pemerintahan di pindah  ke daerah pesisir Jawa bagian Tengah, yaitu Demak,"kata Mbah Sasmito kepada TM, Selasa (28/11).

Lanjutnya, Pada masa itu untuk menyebarluaskan ajaran Islam ke Tanah Jawa bukanlah hal yang mudah. Maka dengan berbagai siasat, akhirnya Sunan Kalijaga dalam menyebarluaskan Agama Islam dengan menyisipkan kebudayaan masyarakat Jawa agar menarik minat masyarakat dalam memahami, mengenal dan meyakini Islam.

"Saat itu kalau tanpa disisipkan dengan kebudayaan masyarakat yang sudah mendarah daging tentunya akan sangat kesulitan.  Untuk memudahkan dalam penyampaian saat syi'ar, salah satunya media yang di gunakan Sunan Kalijaga adalah dengan pertunjukan wayang.

Meskipun pada zaman dahulunya wayang adalah suatu sarana penyebaran keyakinan serta penyebarluasan tata cara ajaran Agama Hindu. Namun tidak bisa di pungkiri pada masa itu, karena hampir semua tatanan masyarakat sangat menyukai pertunjukan wayang,"jelas Mbah Karto.

Untuk lebih menarik minat masyarakat, Sunan Kalijaga merumuskan cara dengan metode memasukkan sosok tokoh dengan konsep nama Puno Kawan di setiap pekeliran.

Meskipun seperti kita ketahui jika sejatinya, pekeliran itu adalah Hindu, karena disitulah budaya, pekerti dan susila Hindu dihadirkan.
"Pada waktu itu Sunan Kalijaga menerapkan dengan filosofi akal, akhlak dan adab Islam. Dengan konsep Puno Kawan yang di mana di sisipkan empat lakon di antaranya Petruk, Semar, Gareng dan Bagong. Dengan di sisipkan empat sosok tersebut bertujuan agar mudah memberikan pemahaman kepada masyarakat saat syi'ar ajaran agama Islam,"tutur Kakek yang sudah berusia 85 tahun ini.

Dalam tokoh Puno Kawan sendiri bukan tanpa maksud. Empat tokoh tersebut juga mempunyai makna filosofi tersendiri, seperti halnya Petruk. Kata ini di ambil dari kata  “ fatruk “, yang dengan penjelasan  “ fatruk kullu man siwallahi “. Yang mempunyai makna yakni meninggalkan segalanya kecuali Allah. Hanya Dia yang dituju dan diagungkan.

Sedangkan sebutan Semar, dalam bahasa arab dengan kata “ simar “, yang mempunyai makna paku. Dengan disisipkan kata Semar  guna menjelaskan jika Islam kedapan diharapkan mampu untuk memaku tajam dan kuat ditanah Nusantara ini, agar setiap masyarakat yang memeluk agama Islam untuk lebih berteguh hati.

Sedangkan kata Gareng, di ambil dari bahas arabnya “ qariin “ atau “ nala qariin “.  Yang mempunyai makna, mencari dan mendapatkan teman. Mungkin istilah islaminya adalah “ hablum minnannas “. Hakekatnya semua pemeluk agama islam adalah saudara seiman, yang tentunya sesama Maklhuk wajib menjaga tali silaturahmi.

Sedangkan kata Bagong, di ambil dari kata  “ bagha “ yang bermakna menolak, menyanggah atau kedholiman yang dilakukan oleh manusia yang mengaku beradab, berakhlak mulia tapi pada kenyataannya bertolak belakang dengan kenyataan perilaku.

"Dari beberapa penjelasan yang saya sampaikan itu setahu saya mas. Jadi mohon maaf jika ada orang lain menafsirkan dengan tafsir yang beda. Tapi saya yakin, meskipun beda menafsirkan namun tujuanya sama, yaitu untuk kebaikan bersama. Begitu dulu mas ya.. ini saya masih banyak tamu yang minta tolong,"tutup Mbah Karto.(Rudy)

Editor : Wahyu Widodo

No comments

Powered by Blogger.