Header Ads

Kisahku Berhutang ke "Nyi Roro Kidul" Dengan Perantara Dukun Palsu

Magelang, teropongmalam.com - Berawal dari perjalananku beberapa tahun lalu, pergi dari kota asalku di sebuah dusun terpencil di Kota Magelang.  

Dalam perantauanku di Kota Yogyakarta sekitar tahun 2012 hingga tahun 2015, aku bekerja sebagai tenaga serabutan di sebuah pasar tradisional. Sebagai buruh pasar, penghasilanku tidak seberapa besar, namun masih cukup menopang kebutuhanku sehari - hari.

Terdorong oleh keinginanku untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, aku sering bekerja di malam hari sebagai tukang parkir di seputar pasar tempat aku bekerja. Hingga suatu hari di malam Minggu sekitar awal tahun 2015, aku dipertemukan dengan Pak Karjo (bukan nama sebenarnya). 

Pak Karjo memperkenalkan diri sebagai seorang ahli spiritual yang memiliki berbagai macam ilmu kesaktian.  Salah satu yang sering diceritakan kepadaku, adalah kemampuan Pak Karjo yang dapat berkomunikasi langsung dengan Nyi Roro Kidul, konon kabarnya adalah penguasa pantai selatan.

Sebelum lupa, perkenalkan namaku adalah Pardi, sekarang di usiaku yang memasuki kepala 4, aku masih merasa geli dengan pertemanan dengan Pak Karjo.

Kembali ke kisah pertemanan dengan Pak Karjo, ada pula seorang rekan yang sering bersama denganku ketika menemaniku mendengarkan cerita - cerita Pak Karjo, dia adalah Eko, pemuda asal Banyumas.

Suatu malam, entah karena sudah jenuh dengan aktifitasku sehari - hari yang hanya cukup untuk makan kala itu, aku berkeluh kesah dengan Pak Karjo.

"Pak Karjo, kalau sampean memang sakti dan bisa berkomunikasi dengan Nyi Roro Kidul, apa bisa, sampean menyampaikan keinginanku ke beliau?" tanyaku.

Pak Karjo sedikit terkejut dengan pertanyaanku, sambil menghisap dalam rokok lintingannya, dia menjawab pertanyaanku sambil terkekeh.

"Kamu tuh mau minta apa to Di.....? Aku lihat kamu sudah enjoy dengan pekerjaanmu, ndak kurang suatu apa, sudah banyak pedagang yang percaya kamu, hehehe....," gerutu Pak Karjo kala itu.

Dengan sedikit jengkel dengan ejekan Pak Karjo, aku menyaut, "ya masak hidup mau begini - begini terus to, pak Karjo, kan yo pengen merasakan naik motor bagus, kayak yang lain, dan saya juga pengen membina rumah tangga juga to, Pak," selorohku kepada Pak Karjo.

"Trus, kowe pengen apa? Aku kudu gimana bilang ke Nyi Roro Kidul?" tanya Pak Karjo.

Belum aku jawab pertanyaan Pak Karjo, tiba - tiba Eko menyaut dengan bahasa khas Banyumasnya.

"Pak...pak..kayak sampean ndak tau Pardi', dewekke arep kayak nyong...numpak motor Ninja, kan banyak cinta, hahahahahahaha......" kelakar Eko malam itu.

"Hmmm...kamu tu Ko..ndak tau yang aku rasa'in, apa ya simbokku di kampung hanya tak kirimin uang seadanya, kan ya ndak gitu....aku juga pengen kehidupan yang lebih baik," kilahku.

Pak Karjo yang terus mengamatiku tiba - tiba berucap, "wis..sudah..jangan saling mengejek, trus sekarang maumu apa, Di?" tanya Pak Karjo kepadaku.

Aku lantas menjelaskan maksud tujuanku ke Pak Karjo, bahwa aku pengen pinjam modal ke Pak Karjo.

"Pak, kalau boleh, aku mau pinjam modal ke sampean. Nanti tak buat modal dagang di kampung, aku rasa aku bisa dengan sehari - hari melihat juragan Kasmi menjalankan usaha dagang kelonthongnya," ucapku.

"Di...aku ndak punya uang banyak, kamu butuh berapa?" ucap Pak Karjo lirih.

"Ndak banyak Pak, menurut hitunganku dari catatan sehari - hari Bu Kasmi, aku butuh 50 juta rupiah," jawabku.

"Wedian!!! Kamu mau ngrampok aku, Di?" jawab Pak Karjo setengah membentak.

"La..katane sampean sakti, Pak? Coba tinggal minta ke Nyi Roro Kidul, dengan maksud permintaanku," ucapku.

"Gini aja, besok malam Jumat Kliwon, kowe tak ajak ke Parang Kusumo, disana nanti aku coba mintakan modal ke Nyi Roro Kidul," terang Pak Karjo memberi harapan.

Dari malam itu kami berbincang tentang Nyi Roro Kidul, aku masih menjalankan aktifitas harianku sebagai pekerja serabutan di pasar. Suatu hari, aku mendengar Bu Kasmi, salah satu pedagang pasar yang tokonya selalu laris berkeluh kesah dengan seorang pedagang lain, sebut saja Bu Sarmi.

"Jeng, aku kok merasa aneh dengan Pak Karjo ya, kemarin aku di curhati oleh Dewi, yang dagang emas di blok pasar depan, kasihan dia," kata Bu Kasmi kala itu.

"Wah, ada apa to Bu? Kok saya ndak denger ya...cerita tentang Dewi," jawab Bu Sarmi.

"Kata Dewi, dia ditawari bantuan Pak Karjo untuk dagangannya lebih laris dan bisnisnya lebih maju, namun dia mengeluh kalau sudah keluar uang hingga puluhan juta untuk syarat mengambil pengasihan dari Nyi Roro Kidul," tutur Bu Kasmi.

"Trus, gimana akhirnya?" ungkap Bu Sarmi penasaran.

"Sampe waktu yang dijanjikan oleh Pak Karjo, ternyata semua batal karena Dewi melanggar ketentuan dari Nyi Roro Kidul yang disampaikan oleh Pak Karjo, namun Pak Karjo juga sepertinya santai saja dengan semua itu," cerita Bu Kasmi.

"Lebih mengagetkan lagi kalau yang membuat Dewi bingung, Pak Karjo pernah bilang ke Dewi, bila ingin semua khajatnya berhasil, dia harus bermalam dengan Pak Karjo di sebuah hotel di tepi pantai Parang Tritis, agar khodam Nyi Roro Kidul dapat masuk ke tubuh Dewi," Bu Kasmi becerita dengan semangat.

Mendengar cerita itu, Bu Sarmi langsung menyaut, "Bu...Bu...boro - boro uang modal buat begitu...mending buat nambah dagangan..dan khusuk berdoa saja...," saut Bu Sarmi.

"Iya..ya..aku rasa Pak Karjo hanya modus ingin tidur dengan Dewi dan menikmati uang Dewi," jawab Bu Kasmi pelan.

Pembicaraan mereka tidak saya dengar lebih jauh, karena saya harus melanjutkan pekerjaan yang lain di depan komplek pasar. Namun dari cerita itu, saya justru berfikir bahwa bisa saja saya diperdaya Pak Karjo. Berbekal ilmu nekat, aku punya niat buruk untuk memperdaya Pak Karjo.

Singkat cerita, sampailah malam dimana aku dijanjikan Pak Karjo bertemu dengan Nyi Roro Kidul. 

Semua syarat yang diajukan oleh Pak Karjo saya penuhi, kembang setaman, klembak menyan dan ingkung ayam kampung.

"Wis, kamu dah siap...!" tanya Pak Karjo.

"Sudah Pak, saya siap lahir batin," kataku.

Sesaat kemudian Pak Karjo terdiam dengan posisi bersila, entah apa yang dibacanya, tiba - tiba mata Pak Karjo terbelalak dan tanpa basa basi, dia memakan habis ingkung ayam yang aku sediakan. Sehabis ingkung, bubur juga dia lahap dengan cepat.

Setelah semua makanan sebagai sesaji habis, Pak Karjo teridam sejenak. Tiba - tiba dia menggelepar ke belakang dan membuat saya kaget. Sejenak saya tertegun, apa yang terjadi dengan Pak Karjo, namun aku lega setelah dia bangun seperti tidak kurang suatu apa.

"Sudah, saya sudah mendapat restu dari Nyi Roro Kidul untuk meminjami kamu modal, namun ndak seperti yang kamu minta, hanya sebesar 10 juta rupiah yang di kabulkan untukmu," ucap Pak Karjo sambil mengatur nafasnya.

Hatiku sedikit lega dengan ungkapan Pak Karjo, bukan jumlah yang aku harapkan lebih, sedikit bantuan dana segar membuatku mantap pulang kampung dan membuka usaha. Belum selesai aku berfikir, Pak Karjo berujar, "Tapi satu pesan Nyi Roro Kidul, bahwa dana pinjaman itu bisa diminta lagi sewaktu - waktu oleh beliau," kata Pak Karjo.

"Baik Pak, namun jangan mendadak saat Pak Karjo meminta uang pinjaman itu harus saya kembalikan," jawabku singkat.

"Bisa, sekarang terserah kamu, uang ini mau kamu pake apa?" perintah Pak Karjo lagi.

Kami pun kembali ke rumah kontrakanku, Pak Karjo dan saya berpisah di depan pasar tempat saya bekerja. 

Pagi mejelang, saya sudah berkemas dan bersiap berpamitan dengan seluruh pedagang pasar yang selama ini saya jadikan sandaran ekonomi saya.  Perjalanan saya ke desa asal saya ke Magelang saya nikmati dengan hati gembira. 

Tiga bulan berlalu, usaha warung kelontong saya berkembang, tiba - tiba telepon genggam saya berdering. Tidak asing dengan nama yang tertera di layar, saya langsung menyambar telepon genggam saya dan menjawab, "Sugeng siang Bu Kasmi, sudah lama tidak berjumpa, apa kabar? Ada kabar apakah, ibu tiba - tiba menelpon saya?" tanyaku kepada penelpon yang rupanya adalah Bu Kasmi.

"Begini dik Pardi, kamu masih ingat Pak Karjo? Di sini sekarang sedang heboh dia melakukan banyak penipuan ke pedagang pasar. Ratusan juta uang korban penipuannya raib bersama dia yang sekarang entah dimana?" cerita Bu Kasmi di telepon.

Panjang lebar cerita disampaikan Bu Kasmi dalam pembicaraan melalui telepon, dan akhirnya saya mengiyakan saat Bu Kasmi meminta memberi keterangan bila Pak Karjo menghubungiku.

Entah kebetulan atau memang sudah takdir, beberapa hari setelah Bu Kasmi menelponku, tiba - tiba Pak Karjo ada di depan rumahku.

"Betul ini rumah mas Pardi?" suara seorang lelaki yang tak asing di telingaku.

Sambil membalikkan badan, aku melihat orang itu, "Eh....Pak Karjo....gimana Pak, kabarnya...? Mari masuk...saru menerima tamu agung kok di teras rumah," jawabku sambil menjabat tangan Pak Karjo.

Berjalan beriringan, kami masuk ke dalam rumah. Mempersilahkan Pak Karjo duduk, saya masuk ke dalam membuatkan kopi hitam kenthel kegemaran Pak Karjo.

"Monggo Pak, ini kopi hitam kesukaan Pak Karjo," ucapku sambil menyodorkan secangkir kopi nasgitel.

"Wah cocok ini...hawanya dingin ada kopi panas legi tur kenthel..hehehe..makasih ya, Di," ucap Pak Karjo kepadaku.

Dalam kedatangannya ke rumahku hari itu, Pak Karjo bermaksud memberi info bahwa Nyi Roro Kidul menginginkan uang yang dipinjamkan ke padaku dikembalikan dalam 7 hari ke depan. 

Melihat tampilan Pak Karjo yang lebih klimis dan glamor, aku jadi ingat pembicaraan dengan Bu Kasmi tempo hari. Dalam hatiku berkata, tak kerjain sekalian aja..biar dia juga ngrasain gimana rasanya kena tipu. 

"Gimana Di? Kamu sanggup to mbalikin uang Nyi Roro Kidul waktu itu dalam 7 hari dari sekarang?" suara Pak Karjo mengagetkan lamunanku.

"Oh..eh...i...iya..Pak, aku sanggup...nanti sampean ke sini lagi ya," jawabku terbata karena kaget oleh suara Pak Karjo dalam lamunanku.

"Baiklah kalau kamu menyanggupi, nanti seminggu lagi aku ke sini, sekarang tak habiske kopi buatanmu dulu..kangen je..sama kopi khas adukkan tanganmu," canda Pak Karjo kepadaku.

Banyak obrolan saat itu dan aku merasakan banyak kejanggalan dari semua cerita Pak Karjo. Hingga dia berlalu dari rumahku, aku masih berfikir cara ngerjain si Karjo kupret itu.

Sampailah hari yang ditentukan, aku menunggu hingga tengah malam, tapi si kupret Karjo tak tampak batang hidungnya. Aku tertidur di sofa ruang tamu rumahku.

Dentang jam dinding di rumahku berbunyi sembilan kali, berarti bahwa hari sudah menjelang siang. Perutku pun sudah memberi peringatan untuk segera mengisi perut kosongku.

Baru aku beranjak dari kursi mau ke meja makan, tiba - tiba pintu rumahku di ketuk orang dan tidak asing lagi, dialah yang aku tunggu dari semalam, Karjo.

"Di, Pardi....kamu di rumah? Aku dateng ini...," suara Pak Karjo di teras rumahku.

"Iya Pak, sebentar..saya bukakan pintu," jawabku dari dalam rumah.

Pintu aku buka dan mempersilahkan Pak Karjo masuk, lalu saya persilahkan duduk. Setelah berbasa basi sebentar, Pak Karjo langsung menyampaikan maksudnya untuk mengambil uang 10 juta rupiah yang dulu menurutnya modal pinjaman dari Nyi Roro Kidul.

"Piye Di, wis disiapke to? Modal pinjaman dari Nyi Roro Kidul," tanya Pak Karjo kepadaku.

"Gini Pak, apa jenengan ndak koordinasi lagi dengan Nyi Roro Kidul? Apa beliau ndak kasih kabar ke sampean?" sanggahku kemudian.

"Lho...emang Nyi Roro Kidul gimana, Di?" tanya Pak Karjo penasaran.

"Kan semalam Nyi Roro Kidul sudah ke sini dengan dikawal kereta kuda dan para punggawanya. Ya saya langsung serahkan beliau sendiri, termasuk hasil pengembangannya," sahutku ke Pak Karjo.

Setengah bingung dan ndak percaya, Pak Karjo menanyakan lagi ke saya. "Bener Di, Nyi Roro Kidul sudah ke sini?"

"Ya betul to, Pak! Trus apa saya harus membayar dua kali? Kan sampean sudah bilang kalau itu dari Nyi Roro Kidul? Ya saya kembalikan langsung ke beliau, jadi ya maaf, saya sudah melunasi kewajiban saya," jawabku cepat.

Sedikit menggerutu, Pak Karjo pamit pulang dan pergi dari rumahku. Dari kejadianku ini, semoga kita lebih jeli melihat seorang yang mengaku sakti, jangan asal percaya. (ASB/Widodo)

No comments

Powered by Blogger.