Header Ads

INILAH PENJELASAN SINGKAT HUBUNGAN ANTARA ILMU KALAM DENGAN TASHAWUF

Foto Ilustrasi - Sumber Google.
TM,Hikmah - Hubungan Antara Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Ilmu Falsafah, Ilmu Fiqih dan Ilmu Jiwa
Arti ilmu tasawuf.

Kata “sufi” awal munculnya pada abad ke-9 dan asal usul katanya mulai dibahas oleh Hujwiri pada abad ke-11. Beliau berpendapat bahwa kata “sufi” kemungkinan berasal dari kata shuf yang artinya wol, karena pada waktu itu para sufi memakai pakaian yang bearasal dari wol. Atau bisa berasal dari ahli suffah, yaitu nama yang diberikan kepada orang-orang yang tinggal diberanda masjid Nabi Muhammad SAW. Atau kemungkinan bisa juga berasal dari kata shaft yang artinya kesucian.

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa “Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu” artinya “Barang siapa yang, mengenal dirinya, maka ia mengenal penciptanya”.

Tasawuf artinya jalan kembali menuju keadaan azali (kekal) manusia, jalan yang ditempuh untuk menemukan suatu makna dan tujuan, agar mencapai ketenangan dan kehidupan yang kekali, dan jalan untuk bisa kembali kerumah. Orang barat menyebut tasawuf sebagai mististe islam. Karena tasawuf merupakan perjalanan untuk pengalaman pribadi tentang cinta Ilahi dan menjangkau pemahaman yang menunjukkan tentang pengalaman mistis. Tasawuf berarti mengalami dan menghayati realitas agama, hasil penemuan dan kenyataan yang telah dicanangkan oleh semua nabi. Semua orang berpotensi untuk menemukan rahasia tentang kehidupan ini. Tergantung kepada mereka mau atau tidaknya mempelajari pengetahuan ini.

Pengalaman tidak hanya dicapai dengan akal dan logika saja, tetapi harus muncul dari lubuk hati yang terdalam. Islam artinya berserah diri kepada Tuhan dan tujuan tasawuf adalah berserah diri kepada Tuhan, yang merupakan sarana dalam mencapai penyatuan dengan Tuhan Sang Pencipta. Hal ini dapat diartikan bahwa tasawuf adala islam.

Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Kalam

Ilmu kalam adalah disiplin ilmu keislaman yang sangat mengutamakan pembahasan tentang persoalan-persoalan perkataan (kalam) Tuhan. Pembahasan persoalan kalam tersebut biasanya mengarah pada pembicaraan yang mendalam berdasarkan argumentasi baik secara Aqliyah (rasional) maupun naqliyah. Argumentasi yang dimaksud merupakan sebagai landasan pemahaman yang lebih mengarah kepada metode berpikir filosofis.

Argumentasi naqliyah biasanya cenderung mengarah pada argumentasi yang berupa dalil-dalil atau ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist. Pembahasan materi-materi yang berhubungan dengan ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa rohaniah. Maksudnya adalah Ilmu Kalam yaitu ilmu yang menerangkan bahwa Allah memiliki sifat wujud, qidam ,baqo’, mukhalafatulilhawadishi, dll. tetapi ilmu kalam tidak menjelaskan bagaimana seseorang dapat merasakan langsung bahwa Allah memiliki sifat-sifat di atas, seperti melihat atau mendengar hambanya, tida menjelaskan bagaimana juga perasaan hati seseorang ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an, dan bagaimana seseorang bisa merasakan segala sesuatu yng tercipta di dunia ini merupakan pengaruh dari kekuasaan Allah SWT.

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak akan terjawab jika hanya berdasarkan pada ilmu kalam saja. Untuk itu butuh mempelajari ilmu tasawuf agar bisa menghayati dan memahami persoalan-persoalan tersebut sehingga bisa menanamkannya ke dalam jiwa manusia. Disiplin inilah yang membahas tentang bagaimana merasakan nilai aqidah dengan memperhatikan bahwa sebuah persoalan tidak saja dalam lingkup hal yang diwajibkan. Dalam ilmu kalam dikenalkan tentang pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sedangkan pada ilmu tasawuf dikenalkan tentang pembahasan jalan atau langkah praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman dalam jiwa manusia.

Persoalan-persoalan tersebut tidaklah cukup dimengerti dan diketahui batasannya saja. Karena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah seseorang sudah tahu batasan-batasan tentang kemunafikan tetapi tetap saja melakukannya. Berarti hanya bisa teori tetapi tidak bisa prakteknya.

Fungsi ilmu tasawuf yang berkaitan dengan ilmu kalam adalah sbb :

    Sebagai pemberi pengetahuan secara spiritual dalam pemahaman kalam. Sebagai penghayatan mendalam melalui hati terhadap ilmu kalam, sehingga lebih menghayati dan teraplikasikan dalam perilaku dan tindakan. Bisa diartikan ilmu tasawuf sebagai penyempurna ilmu kalam.

    Ilmu tasawuf sebagai pengendali ilmu kalam. Jika muncul suatu aliran baru atau kepercayaan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadist yang disebut sebagai penyimapangan atau penyelewengan dan bisa menolak ajaran baru tersebut apabila bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadist atau belum pernah diriwayatkan oleh para ulama.

    Sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam. Ilmu tasawuf memberi kesadaran rohaniah sehingga membuat ilmu kalam terkesan sebagai dialektika (penyelidik suatu masalah) tentang keislaman belaka. Yang tidak berdasarkan kesadaran pengahyatan atau sentuhan hati.

Seandainya setiap manusia sadar bahwa Allahlah yang memberi segala sesuatu, maka perasaan hasud dan dengki akan hilang. Jika manusia tahu akan kedudukannya dihadapan Allah, maka tidak terbersit rasa sombong dan membanggakan diri. Jika saja manusia sadar bahwa Allahlah yang menciptakan segala sesuatu, maka tidak aka nada sifat ujub dan riya di dalam hatinya. Dari sinilah diketahui bahwa sebenarnya ilmu tauhid merupakan tangga dasar dalam perjalanan menuju Allah (perjalanan para kaum sufi). Dalam ilmu tasawuf, semua persoalan yang berada dalam pelajaran ilmu kalam akan lebih bermakna dan tidak serta lebih terasa dinamis dan aplikatif.

Hubungan antar Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Falsafah

Banyak orang memandang ilmu tasawuf dan ilmu falsafah itu berlawanan. Muncul juga pendapat yang mengatakan bahwa pencarian jalan tasawuf mengharuskan pencelaan dalam filsafat, tidak hanya berupa hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi. Bahkan dalam perpaduan dan hubungan ini tidak terbatas sama sekali pada permusuhan dan kebencian.

Tasawuf merupakan jalan secara rohani, kesatuan dengan kebenaran yang mutlak serta pengetahuan mistik menurut jalan dan sunah. Sedangkan filasafah tidak diartikan hanya sebagai filsafah peripetic yang rasionalistic. Melainkan seluruh mahzab intelektual dalam kebudayaan islam yang telah mencapai pengetahuan tentang sebab awal melalui daya pikir yang intelektual. Filsafat terbagi menjadi filasafat diskursif (bahtsi) maupun intelek intuitif (dzawqi).

Hubungan Antara Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Filsafat, adalah sebagai berikut :

    Sebagai bentuk hubungan yang paling luas antara tasawuf dengan filsafat adalah pertentang satu dengan yang lain. Sebagaimana yang terdapat di dalam karya-karya Al-Ghazali bersaudara, Abu Hamid dan Ahmad, dan penyair sufi terkenal seperti, Sana’l, Athar, dan Rumi. Para sufi besar ini hanya memperhatikan aspek rasional dari filsafat, dan setiap kali membahas tentang intelek, mereka tidak bisa mengartikan intelek secara mutlaknya, tetapi lebih mengacu pada aspek rasional intelek atau akal. Athar juga memahami filsafat sebagai filsafat peripatetic yang rasionalistik dan lebih menekankan pada tidak boleh dikelirukan dengan misteri dan pengetahuan Ilahiah. Misteri dan pengetahuan Ilahiah merupakan suatu usaha puncak pensucian jiwa di bawah bimbingan para guru sufi. Intelek atau akal tidaklah sama dengan hadist nabi dan falsafah tidak sana dengan teosofi atau hikmah dalam arti Qur’aninya.

    Hubungan antara tasawuf dengan filsafat terlihat dalam munculnya bentuk khusus yang berkaitan erat dengan filsafat. Meskipun tasawuf tidak menerima filsafat peripetic dan mahzab lainnya yang seperti itu, namun tasawuf tercampur dengan filsafat teosofi (hikmah) dalam pengetahuan yang terluas. Dalam mahzab Tasawuf, akal sebagai alat dalam mencapai kenyataan yang paling mutlak dengan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Dengan demikian, dalam ilmu tasawuf berkembang menjadi suatu ilmu ilahi.

    Hubungan antara tasawuf dengan filsafat bisa kita temukan dalam karya-karya para sufi sekaligus seorang filosof, seperti afdhaluddin kasyani, Quthbuddin Syirazi, Ibd Turkah Al-Isfahani dan Mir Abul Qosim Findirski.

Hubungan antara ilmu tasawuf dengan ilmu fiqih

Biasanya, pada pembahasan pada kitab-kitab fiqih selalu diawali dari thaharah atau bab bersuci setelah itu barulah tentang persoalan fiqih lainnya. Tetapi, pembahasan tentang thaharoh atau bab-bab fiqih lainnya secara tidak langsung berhubungan dengan rohaniahnya. Ilmu tasawuf dianggap sebagai penyempurna ilmu fiqih. Ilmu tasawuf memberikan corak kerohanian dalam ilmu fiqih. Corak kerohanian yang dimaksud adalah keikhlasan dan kekusyukan dalam melakukan ibadah. Ilmu tasawuf dapat menumbuhkan kesiapan pada hati manusia dalam melaksanakan hukum fiqih. Dalam melaksanakan kewajiban manusia tidak akan sempurna tanpa perjalanan bathin.

Sejak dahulu para ahli fiqih mengatakan bahwa “Barang siapa mendalami fiqih, tetapi belum bertasawuf, berarti dia fasik. Barang siapa bertasawuf, tetapi belum memahami fiqih, berarti dia zindiq. Dan barang siapa melakukan keduanya, berarti dia melakukan kebenaran”. Ilmu tasawuf dan ilmu fiqih adalah dua keilmuwan dalam islam yang saling melengkapi. Jika terjadi pertentangan antara keduanya, berarti ada kesalahan atau penyimpangan di dalamnya. Artinya bisa saja seorang sufi berjalan tanpa fiqih, seperti seseorang ahli yang tidak mengamalkan ilmunya. Jadi, seorang ahli sufi harus memahami tasawuf dan memahami serta mengikuti aturan fiqih. Seorang ahli fiqih harus mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan hukum dan tata cara pengamalannya. Dan seorang sufi pun demikian, harus mengetahui peraturan hukum dan cara mengamalkannya.

Hubungan antara ilmu tasawuf dengan ilmu jiwa

Pada pembelajaran tasawuf akan dibahas tentang hubungan antara jiwa dengan badan. Dalam pembahasan tentang hubungan antara jiwa dengan badan adalah terciptanya keserasian antara keduanya itulah tasawuf. Pembahasan ini digambarkan para sufi dalam sekema memandang sejauh mana hubungan perilaku yang dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan dorongan yang dimunculkan oleh jiwanya sehingga perbuatan itu dapat terjadi. Dari pembahasan tersebut baru kemudian muncul klasidikasi-klasifikasi perbuatan manusia. Apakah digolongkan ke dalam perbuatan yang tercela atau perbuatan yang terpuji (akhlak baik).

Jika perbuatan seseorang diaplikasikan dalam tindak dan perilaku baik, berarti orang tersebut berakhlak baik. Sedangkan jika perbuatan yang diaplikasikan dalam tindakan dan perilaku yang buruk, maka orang tersebut berakhlak tercela. Menurut pandangan para kaum sufi, akhlak dan sifat manusia adalah tergantung pada jiwa yang berkuasa atas dirinya. Jika yang telah berkuasa dalam diri manusia tersebut adalah jiwa hewani atau nabati, maka akan memiliki sikap dan perilaku seperti perilaku hewani dan nabati pula. Dan sebaliknya jika yang berkuasa dalam diri manusia itu adalah nafsu insani, maka perilaku yang ditunjukkan merupakan perilaku insani pula.

Orang yang memiliki jiwa yang sehat adalah yang bisa merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Karena merekalah yang bisa merasakan bahwa dirinya berguna, berharga dan mampu menggunakan segala potensi dan bakat dalam dirinya semaksimal mungkin dengan cara membawa kebahagiaan dirinya dan orang lain. Selain itu manusia tersebut yang mampu menyesuaikan diri dalam arti yang luas. Sehingga dapat membuat dirinya terhindar dari kegelisahan, gangguan jiwa, dan akan bisa memelihara moralnya.

Berarti ketika mempelajari ilmu tasawuf secara tidak sadar kita telah mempelajari tentang ilmu kalam, ilmu falsafah, ilmu fiqih, dan ilmu jiwa. Sebagai umat islam marilah selalu menggunakan berbagai kesempatan untuk menuntut ilmu. Walaupun hanya wakti yang singkat, tetapi jika kita mampu memahami dan mengerti tentang ilmu tersebut tentu akan membawa dampak besar bagi pengetahuan kita.
 Hubungan Antara Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Kalam, Ilmu Falsafah, Ilmu Fiqih dan Ilmu Jiwa
Arti ilmu tasawuf

Kata “sufi” awal munculnya pada abad ke-9 dan asal usul katanya mulai dibahas oleh Hujwiri pada abad ke-11. Beliau berpendapat bahwa kata “sufi” kemungkinan berasal dari kata shuf yang artinya wol, karena pada waktu itu para sufi memakai pakaian yang bearasal dari wol. Atau bisa berasal dari ahli suffah, yaitu nama yang diberikan kepada orang-orang yang tinggal diberanda masjid Nabi Muhammad SAW. Atau kemungkinan bisa juga berasal dari kata shaft yang artinya kesucian.

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa “Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu” artinya “Barang siapa yang, mengenal dirinya, maka ia mengenal penciptanya”.

Tasawuf artinya jalan kembali menuju keadaan azali (kekal) manusia, jalan yang ditempuh untuk menemukan suatu makna dan tujuan, agar mencapai ketenangan dan kehidupan yang kekali, dan jalan untuk bisa kembali kerumah. Orang barat menyebut tasawuf sebagai mististe islam. Karena tasawuf merupakan perjalanan untuk pengalaman pribadi tentang cinta Ilahi dan menjangkau pemahaman yang menunjukkan tentang pengalaman mistis. Tasawuf berarti mengalami dan menghayati realitas agama, hasil penemuan dan kenyataan yang telah dicanangkan oleh semua nabi. Semua orang berpotensi untuk menemukan rahasia tentang kehidupan ini. Tergantung kepada mereka mau atau tidaknya mempelajari pengetahuan ini.

Pengalaman tidak hanya dicapai dengan akal dan logika saja, tetapi harus muncul dari lubuk hati yang terdalam. Islam artinya berserah diri kepada Tuhan dan tujuan tasawuf adalah berserah diri kepada Tuhan, yang merupakan sarana dalam mencapai penyatuan dengan Tuhan Sang Pencipta. Hal ini dapat diartikan bahwa tasawuf adala islam.

Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Kalam

Ilmu kalam adalah disiplin ilmu keislaman yang sangat mengutamakan pembahasan tentang persoalan-persoalan perkataan (kalam) Tuhan. Pembahasan persoalan kalam tersebut biasanya mengarah pada pembicaraan yang mendalam berdasarkan argumentasi baik secara Aqliyah (rasional) maupun naqliyah. Argumentasi yang dimaksud merupakan sebagai landasan pemahaman yang lebih mengarah kepada metode berpikir filosofis.

Argumentasi naqliyah biasanya cenderung mengarah pada argumentasi yang berupa dalil-dalil atau ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist. Pembahasan materi-materi yang berhubungan dengan ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa rohaniah. Maksudnya adalah Ilmu Kalam yaitu ilmu yang menerangkan bahwa Allah memiliki sifat wujud, qidam ,baqo’, mukhalafatulilhawadishi, dll. tetapi ilmu kalam tidak menjelaskan bagaimana seseorang dapat merasakan langsung bahwa Allah memiliki sifat-sifat di atas, seperti melihat atau mendengar hambanya, tida menjelaskan bagaimana juga perasaan hati seseorang ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an, dan bagaimana seseorang bisa merasakan segala sesuatu yng tercipta di dunia ini merupakan pengaruh dari kekuasaan Allah SWT.

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak akan terjawab jika hanya berdasarkan pada ilmu kalam saja. Untuk itu butuh mempelajari ilmu tasawuf agar bisa menghayati dan memahami persoalan-persoalan tersebut sehingga bisa menanamkannya ke dalam jiwa manusia. Disiplin inilah yang membahas tentang bagaimana merasakan nilai aqidah dengan memperhatikan bahwa sebuah persoalan tidak saja dalam lingkup hal yang diwajibkan. Dalam ilmu kalam dikenalkan tentang pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sedangkan pada ilmu tasawuf dikenalkan tentang pembahasan jalan atau langkah praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman dalam jiwa manusia.

Persoalan-persoalan tersebut tidaklah cukup dimengerti dan diketahui batasannya saja. Karena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah seseorang sudah tahu batasan-batasan tentang kemunafikan tetapi tetap saja melakukannya. Berarti hanya bisa teori tetapi tidak bisa prakteknya.

Fungsi ilmu tasawuf yang berkaitan dengan ilmu kalam adalah sbb :

    Sebagai pemberi pengetahuan secara spiritual dalam pemahaman kalam. Sebagai penghayatan mendalam melalui hati terhadap ilmu kalam, sehingga lebih menghayati dan teraplikasikan dalam perilaku dan tindakan. Bisa diartikan ilmu tasawuf sebagai penyempurna ilmu kalam.

    Ilmu tasawuf sebagai pengendali ilmu kalam. Jika muncul suatu aliran baru atau kepercayaan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadist yang disebut sebagai penyimapangan atau penyelewengan dan bisa menolak ajaran baru tersebut apabila bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadist atau belum pernah diriwayatkan oleh para ulama.

    Sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam. Ilmu tasawuf memberi kesadaran rohaniah sehingga membuat ilmu kalam terkesan sebagai dialektika (penyelidik suatu masalah) tentang keislaman belaka. Yang tidak berdasarkan kesadaran pengahyatan atau sentuhan hati.

Seandainya setiap manusia sadar bahwa Allahlah yang memberi segala sesuatu, maka perasaan hasud dan dengki akan hilang. Jika manusia tahu akan kedudukannya dihadapan Allah, maka tidak terbersit rasa sombong dan membanggakan diri. Jika saja manusia sadar bahwa Allahlah yang menciptakan segala sesuatu, maka tidak aka nada sifat ujub dan riya di dalam hatinya. Dari sinilah diketahui bahwa sebenarnya ilmu tauhid merupakan tangga dasar dalam perjalanan menuju Allah (perjalanan para kaum sufi). Dalam ilmu tasawuf, semua persoalan yang berada dalam pelajaran ilmu kalam akan lebih bermakna dan tidak serta lebih terasa dinamis dan aplikatif.

Hubungan antar Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Falsafah

Banyak orang memandang ilmu tasawuf dan ilmu falsafah itu berlawanan. Muncul juga pendapat yang mengatakan bahwa pencarian jalan tasawuf mengharuskan pencelaan dalam filsafat, tidak hanya berupa hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi. Bahkan dalam perpaduan dan hubungan ini tidak terbatas sama sekali pada permusuhan dan kebencian.

Tasawuf merupakan jalan secara rohani, kesatuan dengan kebenaran yang mutlak serta pengetahuan mistik menurut jalan dan sunah. Sedangkan filasafah tidak diartikan hanya sebagai filsafah peripetic yang rasionalistic. Melainkan seluruh mahzab intelektual dalam kebudayaan islam yang telah mencapai pengetahuan tentang sebab awal melalui daya pikir yang intelektual. Filsafat terbagi menjadi filasafat diskursif (bahtsi) maupun intelek intuitif (dzawqi).

Hubungan Antara Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Filsafat, adalah sebagai berikut :

    Sebagai bentuk hubungan yang paling luas antara tasawuf dengan filsafat adalah pertentang satu dengan yang lain. Sebagaimana yang terdapat di dalam karya-karya Al-Ghazali bersaudara, Abu Hamid dan Ahmad, dan penyair sufi terkenal seperti, Sana’l, Athar, dan Rumi. Para sufi besar ini hanya memperhatikan aspek rasional dari filsafat, dan setiap kali membahas tentang intelek, mereka tidak bisa mengartikan intelek secara mutlaknya, tetapi lebih mengacu pada aspek rasional intelek atau akal. Athar juga memahami filsafat sebagai filsafat peripatetic yang rasionalistik dan lebih menekankan pada tidak boleh dikelirukan dengan misteri dan pengetahuan Ilahiah. Misteri dan pengetahuan Ilahiah merupakan suatu usaha puncak pensucian jiwa di bawah bimbingan para guru sufi. Intelek atau akal tidaklah sama dengan hadist nabi dan falsafah tidak sana dengan teosofi atau hikmah dalam arti Qur’aninya.

    Hubungan antara tasawuf dengan filsafat terlihat dalam munculnya bentuk khusus yang berkaitan erat dengan filsafat. Meskipun tasawuf tidak menerima filsafat peripetic dan mahzab lainnya yang seperti itu, namun tasawuf tercampur dengan filsafat teosofi (hikmah) dalam pengetahuan yang terluas. Dalam mahzab Tasawuf, akal sebagai alat dalam mencapai kenyataan yang paling mutlak dengan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Dengan demikian, dalam ilmu tasawuf berkembang menjadi suatu ilmu ilahi.

    Hubungan antara tasawuf dengan filsafat bisa kita temukan dalam karya-karya para sufi sekaligus seorang filosof, seperti afdhaluddin kasyani, Quthbuddin Syirazi, Ibd Turkah Al-Isfahani dan Mir Abul Qosim Findirski.

Hubungan antara ilmu tasawuf dengan ilmu fiqih

Biasanya, pada pembahasan pada kitab-kitab fiqih selalu diawali dari thaharah atau bab bersuci setelah itu barulah tentang persoalan fiqih lainnya. Tetapi, pembahasan tentang thaharoh atau bab-bab fiqih lainnya secara tidak langsung berhubungan dengan rohaniahnya. Ilmu tasawuf dianggap sebagai penyempurna ilmu fiqih. Ilmu tasawuf memberikan corak kerohanian dalam ilmu fiqih. Corak kerohanian yang dimaksud adalah keikhlasan dan kekusyukan dalam melakukan ibadah. Ilmu tasawuf dapat menumbuhkan kesiapan pada hati manusia dalam melaksanakan hukum fiqih. Dalam melaksanakan kewajiban manusia tidak akan sempurna tanpa perjalanan bathin.

Sejak dahulu para ahli fiqih mengatakan bahwa “Barang siapa mendalami fiqih, tetapi belum bertasawuf, berarti dia fasik. Barang siapa bertasawuf, tetapi belum memahami fiqih, berarti dia zindiq. Dan barang siapa melakukan keduanya, berarti dia melakukan kebenaran”. Ilmu tasawuf dan ilmu fiqih adalah dua keilmuwan dalam islam yang saling melengkapi. Jika terjadi pertentangan antara keduanya, berarti ada kesalahan atau penyimpangan di dalamnya. Artinya bisa saja seorang sufi berjalan tanpa fiqih, seperti seseorang ahli yang tidak mengamalkan ilmunya. Jadi, seorang ahli sufi harus memahami tasawuf dan memahami serta mengikuti aturan fiqih. Seorang ahli fiqih harus mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan hukum dan tata cara pengamalannya. Dan seorang sufi pun demikian, harus mengetahui peraturan hukum dan cara mengamalkannya.

Hubungan antara ilmu tasawuf dengan ilmu jiwa

Pada pembelajaran tasawuf akan dibahas tentang hubungan antara jiwa dengan badan. Dalam pembahasan tentang hubungan antara jiwa dengan badan adalah terciptanya keserasian antara keduanya itulah tasawuf. Pembahasan ini digambarkan para sufi dalam sekema memandang sejauh mana hubungan perilaku yang dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan dorongan yang dimunculkan oleh jiwanya sehingga perbuatan itu dapat terjadi. Dari pembahasan tersebut baru kemudian muncul klasidikasi-klasifikasi perbuatan manusia. Apakah digolongkan ke dalam perbuatan yang tercela atau perbuatan yang terpuji (akhlak baik).

Jika perbuatan seseorang diaplikasikan dalam tindak dan perilaku baik, berarti orang tersebut berakhlak baik. Sedangkan jika perbuatan yang diaplikasikan dalam tindakan dan perilaku yang buruk, maka orang tersebut berakhlak tercela. Menurut pandangan para kaum sufi, akhlak dan sifat manusia adalah tergantung pada jiwa yang berkuasa atas dirinya. Jika yang telah berkuasa dalam diri manusia tersebut adalah jiwa hewani atau nabati, maka akan memiliki sikap dan perilaku seperti perilaku hewani dan nabati pula. Dan sebaliknya jika yang berkuasa dalam diri manusia itu adalah nafsu insani, maka perilaku yang ditunjukkan merupakan perilaku insani pula.

Orang yang memiliki jiwa yang sehat adalah yang bisa merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Karena merekalah yang bisa merasakan bahwa dirinya berguna, berharga dan mampu menggunakan segala potensi dan bakat dalam dirinya semaksimal mungkin dengan cara membawa kebahagiaan dirinya dan orang lain. Selain itu manusia tersebut yang mampu menyesuaikan diri dalam arti yang luas. Sehingga dapat membuat dirinya terhindar dari kegelisahan, gangguan jiwa, dan akan bisa memelihara moralnya.

Berarti ketika mempelajari ilmu tasawuf secara tidak sadar kita telah mempelajari tentang ilmu kalam, ilmu falsafah, ilmu fiqih, dan ilmu jiwa. Sebagai umat islam marilah selalu menggunakan berbagai kesempatan untuk menuntut ilmu. Walaupun hanya wakti yang singkat, tetapi jika kita mampu memahami dan mengerti tentang ilmu tersebut tentu akan membawa dampak besar bagi pengetahuan kita.(*)

Editor: Wahyu Widodo
Sumber: Dari Berbagai Sumber

No comments

Powered by Blogger.