Header Ads

Diduga Bermodus Istri Dijadikan Umpan, Uang Rp 10 Jutaku Melayang Gara-Gara "Bobok Bareng" di Hotel

Ilustrasi.
Kisahnyata,TM - Nasib sial menimpa seorang duda warga Asal Kabupaten Semarang, yakni TGH. Selain rasa malu didapat uang Rp 10 Juta melayang lantaran harus membayar ganti rugi kepada suami dari kekasihnya, sebut saja Capung.

Begini ceritanya, asal mula malapetaka itu menimpanya pada bulan November 2018 saat saya dimintai tolong oleh Anggrek (bukan nama sebenarnya) untuk menjemputnya di salah satu hotel ternama di Salatiga.

"Saat itu, saya di sms oleh Anggrek dan diminta tolong untuk menjemputnya. Karena dia dulu teman sekolah saya di masa SMP maka tanpa rasa canggung sayapun menjemputnya,"kata TGH kepada TM baru baru ini.

Selanjutnya, dalam perjalann TGH dan Anggrekpun ngobrol dengan akrabnya lantaran sudah lama tak saling jumpa. Namun karena seorang lelaki dan perempuan berduan maka pihak  ketiga yakni setan seolah berbisik dan merekapun akhirnya memutuskan untuk istirahat di hotel.


  • "Selama dalam perjalan Anggrek menceritakan permasalahanya terkait hubungannya dengan suaminya yang tak lagi harmonis. Bahkan dia menyebut jika sudah beberapa waktu pisah ranjang. Menanggapi keluhanya itu saya merasa iba dan tanpa berfikir panjang saya menuruti ajakannya mampir ke salah satu hotel di Salatiga,"terang TGH dengan wajah kesal.


Tanpa berfikir panjang saya dan Anggrekpun langsung masuk kemar hotel dan bercumbu layaknya suamo istri. Memang ku akui perbuatanku itu salah, namun dalam hati saya berani berbuat seperti ini lantaran akan menikahinya untuk teman hidup, mengingat semenjak pisah dengan istrinya tak lagi yang mengurus rumah dan anaknya.

"Mendengar ceritanya (Anggrek) saya kasihan dan bermaksud untuk menikahinya. Karena Anggrekpun waktu itu juga mengatakan akan mencerai suaminya,"jelasnya.

Rasa panik bercampur pilu sontak kurasakan, saat aku hendak keluar dari kawasan hotel. Tiba-tiba aku disergap oleh suaminya Anggrek dan sejumlah petugas yang salah satunya saya ketahui petugas yang berdinas di Salatiga dengan inisial AKS. Lalu saya di bawa ke salah satu kantor petugas di wilayah Kecamatan Tengaran , Kabupaten Semarang. Disana aku di interogasi dan dipojokan tanpa sedikitpun kesempatan.

"Saat di kantor petugas saya di interogasi disuruh mengakui dan diminta untuk bertanggung jawab. Karena dari awal saya berniat baik dan akan menikahinya maka akupun mau untuk bertanggung jawab,"unkap TGH.

Setelah lama di musyawarah, lanjut TGH, sontak saya merasa terkejut lantaran saya ditekan harus membayar uang sejumlah Rp 25 juta guna ganti rugi selanjutnya saya di mintai untuk menikahi Anggrek. Karena di bawah tekanan lantaran saat itu saya seorang diri akhirnya saya mengiyakan permintaan itu.

"Saya di beri waktu selama 7 hari untuk membayar uang Rp 25 juta. Setelah itu saya pulang dan bingung untuk membayar uang sebanyak itu. Hingga waktu terus berjalan saya kebingungan dan saya konsultasi pada teman yang provesinya sebagai jurnalis serta advokad. Waktu itu saya banyak di kasih masukan, namun selang beberapa hari tanpa minta saran lagi kepada teman saya , saya langsung saja berangkat kekantor petugas di Tengaran untuk memenuhi permintaan suami Anggrek,"bebernya dengan wajah kesal.

Dengan kondisi panik dan bingung di kantor petugas saya hanya bisa menyanggupi permintaan suami Anggrek sebesar Rp 10 Juta dan mereka menerima. Sayapun merasa lega mereka menerimanya meski tidak sesuai yang diminta pada awalnya. Setelah permasalahan saya anggap selesai dalam benak saya berfikir segera untuk mengurus surat perceraian Anggrek yang selanjutnya akan saya nikahi.

"Hati saya hancur berkeping keping ketika Anggrek terkesan menghindar saat saya hendak mengurus perceraianya seperti ia sampaikan di awal. Bahkan kini setelah menerima uang dari saya, Anggrek dan Capung dari pengintaian saya kembali hidup rukun. Dari kejadian itu saya baru merasa curiga jika Anggrek dan Capung kerja sama untuk memeras saya. Sebelumnya saya sebenarnya juga merasa ada yang ganjil, pasalnya saat saya musyawarah kepada Anggrek untuk segera mengurus cerai seperti ia sampaikan dia terkesan berbelit, namun justru malah mendorong saya untuk segera membayar sesuai permintaan suaminya,"ucap TGH menceritakannya.

Akhirnya saya menyadari jika saya di peras dengan akal-akalanya Anggrek dan Capung. Setelah saya memberikan uang Anggrekpun tak lagi merespon saya serta kembali hidup bersama capung.

"Saya berfikir jika Anggrek dan Capung kong-kong kalikong dengan cara menjebak saya untuk meniduri istrinya lalu saya diperas,"imbuhnya.

Dalam hal ini, masih kata TGH, yang saya sesalkan bukan masalah nominal yang sudah saya serahkan, namun rasa sakit hati karena di kibulin oleh wanita yang saya cintai.

"Atas peristiwa ini saya merasa kesal dan sakit hati. Selian itu juga rasa tak tenang karena di interogasi dan ditekan oleh beberapa petugas,"gamblangnya.

Atas kejadian tersebut, dengan tegas TGH menyampaikan, saat ini saya sedang bermusyawarah dengan teman-teman saya yang beberapa di antaranya berprofesi sebagai jurnalis serta advokad.

"Rencana saya akan melaporkan peristiwa ini atas dugaan pemerasan serta akan melaporkan petugas yang menyergap saya tanpa prosedur. Dan satu petugas saya ketahui bukan dibidangnya, karena saya ketahui dia petugas jalan raya, tapi saat menyergap, dia ikut. Kini baru di gelar perkara oleh teman-teman saya, nanti, kata teman saya jika memenuhi unsur baru akan dilaporkan, baik laporan secara pidana umum bagi Capung dan Anggrek dan laporan kepada petugas yang berwenang memeriksa petugas tak prosedur, sudah dulu ya mas. Selanjutnya akan saya kabari,"pungkas TGH. (*)


Penulis : Wahyu Widodo

Anda punya kisah menarik, kirimkan ke kami melalui email: redaksiteropongmalam@gmail.com

No comments

Powered by Blogger.