Header Ads

Cinta Terbentur Kasta, Meskipun Sang Ibu Sujud Tak Juga Ada Kata Maaf, Sungguh Ironis?

Ilustrasi
TM, Kisah Nyata - Kisah asmara yang saling mencinta tak selalu berujung kebahagiaan. Ada sebuah kisah pasangan sejoli yang berakhir di bui. Sebut saja pasangan ini, Anggrek dan Capung, sepasang sejoli asal Kabupaten Semarang.

Belum lama ini, Capung harus berurusan dengan petugas lantaran dia telah melakukan hubungan badan terhadap sang kekasihnya yang baru duduk di bangku SMA kelas 12.

Kisah derita ini berawal saat Anggrek dan Capung menjalin hubungan asmara layaknya muda mudi masa kini. Namun ditengah perjalanan asmara mereka, akhirnya terbuai nafsu sesaat. Tanpa disadari pasangan ini hanyut dalam buaian nestapa hingga akhrinya melalukan hubungan badan layaknya suami istri. Ironis perbuatan ini dilakukan hingga berulang kali yang pada akhirnya diketahui oleh orang tua Anggrek.

Mengetahui hal tersebut, amarah bercampur pilu menyatu bak gunung merapi meletus hingga akhirnya membawa masalah ini ke hadapan petugas.

Karena kekesalanya, orang tua Anggrek sehingga selubang jarumpun tak ada celah kata maaf, meskipun orang tua Capung bersimpuh sujud dihadapanya.

Bahkan untuk mendapat kata maaf itu, sang Kepala Desa turut turun tangan untuk meraih kata itu. Namun harapan itu hanya semu semata bak bagaikan mencari jarum di tengah samudra.

Singkat cerita, kini Capung tengah merasakanya dingin malam di balik jeruji besi.
Atas kejadian tersebut, kesedihan tak hanya dirasakan oleh keluarga Capung,melainkan juga menuai kecaman dari masyarakat sekitar. Pasalnya, diketahui dua sejoli ini menjalin asmara sudah sejak lama kelam.

Namun mau apa di kata, mengingat Capung hanyalah orang tak punya sedangkan Anggrek orang yang berada. Boleh di sebut bagaikan langit dan bumi.

Tak hanya itu, proses penangkapan terhadap Capung terkesan janggal, pasalnya Capung di tangkap oleh petugas yang notabene bertindak atas nama pribadi kedekatan dengan orang tua Anggrek.

Saat penangkapan dilakukan, justru petugas dari Salatiga dan bukan petugas dari Kabupaten Semarang. Padahal peristiwa kelam tersebut terjadi di Kabupaten Semarang. Setelah itu, Capung menjalani pemeriksaan di ruang petugas di Salatiga lalu dilimpahkan ke kantor petugas di Kabupaten Semarang dengan tanpa alasan yang jelas.

Memang sih, kalau bicara soal hukum Capung salah, karena jelas disebutkan barang siapa melakukan hubungan badan dengan anak yang masih di bawah umur tentunya jeruji besi menanti.

Atas peristiwa ini, sang ibunda Capung sangat terpukul hingga sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Sedangkan sang bapak bingung kesana kemari untuk mencari keadilan hingga lupa menjaga kesehatanya dan lupa makan.

"Sebenarnya berulang kali pihak kami siap untuk bertanggung jawab atas perbuatan anak kami. Karena awalnya mereka juga saling mencinta dan hal tersebut banyak di ketahui warga,"ungkap bapak Capung kepada TM belum lama ini.

Lebih lanjut bapak menceritakan, untuk mengharap kata maaf, istrinya juga rela bersujud dan tidur di emperan orang tua Anggrek. Namun karena perbedaan kasta harapan kata maafpun tak didapat.
"Istri saya sempat sujud untuk mendapatkan maaf. Namun tetap tidak diberi maaf. Bahkan saya sempat tidur di emperan juga kata maaf tak muncul dari orang tua Anggrek,"paparnya sambil meneteskan air mata.

Kini saya hanya pasrah dan berdoa semoga mukzizat itu ada dan anak saya bisa bebas. Kamipun siap menikahkan mereka sebagaimana wujud tanggung jawab.
Melihat kondisi tersebut banyak lembaga juga turut prihatin dan mengecam atas dugaan tidak prosedurnya dalam proses penangkapan yang di lakukan oleh petugas.(Wahyu Widodo)

No comments

Powered by Blogger.