Header Ads

Dampak Debu Penggilingan Batu PT SKN Dikeluhkan Warga, Jurnalis Meliput Mendapat Perlakuan Kasar, 'Ironis'

TM, Temanggung - Zaman semakin 'gendeng' ketika kebebasan pers tak lagi di hargai dan sang jurnalis yang bertugas pun diduga mendapat perlakuan kasar oleh salah seorang satpam PT SKN yang terletak di Desa/Dusun Badran Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung.

Kala itu seorang jurnalis bernama Ratma (39) dari media online beritaglobal dot net pada , Selasa (14/5/2019) lalu hendak meliput adanya keluhan warga yang menyebut jika aktifitas penggilingan batu dari PT SKN debunya berdampak bagi kesehatan dan mengganggu pernafasan.

"Saat itu saya datang untuk konfirmasi terkait menindak lanjuti keluhan masyarakat, namun setiba di lokasi (PT SKN) justru saya mendapat perlakuan kasar dari seorang satpam. Bahkan ia sempat merebut kartu pers saya. Selain itu ada salah satu karyawan yang menantang saya berkelahi,"ungkap Ratma kepada TM, Jumat (17/5/2019).

Menanggapi prahara tersebut, sang punggawa  DPC Persatuan Wartawan Online Independen Nusantara (PWOIN) Kabupaten Temanggung,  Wahono angkat bicara. Pihaknya sangat menyesalkan atas perilaku kasar terhadap wartawan yang bertugas untuk mencari warta guna mencari informasi terkait adanya keluhan masyarakat.  Namun apa daya, tugas mulia yang di emban bukanya di sambut baik namun justru diperlakukan semena-mena.

“Kami prihatin. Itu kan sudah tugas kita sebagai wartawan, kenapa malah menerima perlakuan kasar hingga kekerasan,” ucap Wahono.


Terpisah, sejumlah awak media hendak melakukan peliputan di PT SKN untuk menindaklanjuti adanya keluhan warga Dusun/Desa Badran Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung, atas mengeluhkan dampak debu dari usaha penggilingan batu milik PT SKN di wilayah setempat.

Seperti halnya yang di ungkapkan, Iskandar warga  Dusun/Desa Badran Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung. Ia mengaku bahwa dampak debu penggilingan batu milik PT SKN sangat mengganggu bagi kesehatan. Terlebih jarak  hanya sekitar 100 meter dari rumahnya.

"Dampaknya udara panas dan pengap mengganggu pernafasan, membuat sering merasa sesak. Selain itu rumah juga penuh debu hingga tebal dan harus setiap hari di bersihkan,"ungkap Iskandar saat di temui papertodaynews.id belum lama ini.

Isakandar mengaku, ia pernah mengeluh dan menyampaikan kepada Kepala Desa setempat, bahkan pernah melayangkan surat tembusan ke bupati, namun tidak ada langkah pasti dan hanya di lakukan mediasi tanpa adanya kejelasan.

"Saat minta kejelasan selalu mediasi yang berakhir hanya janji. Seperti halnya pengecekan kesehatan gratis serta komensasi . Semua hanya janji aja,"ungkapnya.

Iskandar berharap, pihak PT SKN untuk memperbaiki sistem agar polusi bisa berkurang, agar tidak berdampak menggangu kesehatan.

Hal senada juga di ungkapkan Ayu (40), Ia mengaku terkena dampak debu dari penggilingan batu dari PT SKN. "Setiap hari saya menghirup udara layaknya gunung merapi meletus yang penuh debu. Selain itu saat menjemur baju baru ditinggal sebentar saja sudah banyak debu,"ungkap Ayu.

Lebih lanjut Ayu berharap, agar pihak dinas terkait untuk memperhatikan dan turun tangan. Mengingat di lingkungan juga banyak anak - anak terlebih balita.

"Kalau kita yang sudah dewasa bisa pakai masker, la kalau balita kan tidak bisa,"ucapnya.

Sampai berita ini diturunkan, pihak PT SKN belum bisa di konfirmasi lebih lanjut.(Wahyu Widodo)

No comments

Powered by Blogger.