Header Ads

Kisah Sahabat Rosul Part 5: Inilah Kisah Hati Umar Bin Kathab RA Kala Mendengar Al Qur`an

TM, Religi - Kegelapan malam terasa cepat menghilang. Suasana ini disusul munculnya mentari Makkah muncul dari persembunyiannya untuk memberi aba-aba kepada makhluk dunia bahwa hari baru telah di mulai. Penduduk Makkah keluar berbondong-bondong di jalan menuju Ka’bah. Kala itu tidak ada seorang pun yang sibuk dengan pekerjaannya atau perniagaannya. Hal ini disebabkan ada masalah baru yang menyibukkan mereka. Masalah baru itu adalah agama baru yang dibawa Muhammad S.a.w., agama yang mengajak mereka untuk mengesakan Allah, menyembah-Nya, dan meninggalkan penyembahan berhala-berhala.

Di atas pasir-pasir kota Makkah, darah Yasir dan Samiyah menetes. Suara-suara karena siksaan orang-orang kafir terdengar keras dari mulut-mulut kaum lemah dan tertindas. Inilah suara Bilal terdengar keras, “Ahad! Ahad! (Maha Esa! Maha Esa!)”

Di sebuah sudut kota Makkah, berdirilah seorang pemuda yang sangat kuat bernama Umar bin Al-Khathab yang sedang menahan tiga budak perempuan dengan menyiksanya. Setelah itu, ia pergi dengan mengatakan, “Sungguh aku tidak meninggalkan kalian kecuali hanya karena sudah bosan dari kalian.”

Ia lewati hari tersebut dengan melaknatinya, yaitu hari munculnya agama Islam dan dakwahnya. Sebagai pemuda, seperti para pemuda Quraisy lainnya, ia pergi dengan cepat menuju warung yang menjual khamr untuk meminumnya di sana. Namun apa yang terjadi? Ia menemukan warung dalam keadaan tutup. Ia mencari teman-temannya, akan tetapi usahanya ini tidak mencapai hasil, ia tidak menemukan mereka. Akhirnya, ia memutuskan pergi ke Ka’bah untuk tawaf di sana.

Setelah sampai di Ka’bah, ia kaget lagi. Di sana ditemukannya Muhammad sedang berdiri melakukan shalat. Dalam hatinya, ia berkata, “Semoga aku bisa mendengarkan apa yang dikatakan Muhammad pada malam nanti.”

Benar, pada malam itu ia bersembunyi di balik kain-kain Ka’bah. Ketika itu Rasulullah S.a.w. mulai membaca Al-Qur`an. Karena takjub keindahan Al-Qur`an, ia berkata dalam hatinya, “Demi Allah, sesungguhnya dia adalah penyair.”

Maka Nabi S.a.w. membaca,

“Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasulullah yang mulia, dan Al-Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.” (Al-Haqqah: 40-41)

Umar kembali berkata dalam hatinya, “Sesungguhnya dia adalah seorang tukang tenung.”

Maka Nabi S.a.w. membaca,

“Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya.” (Al-Haqqah: 42)

Pada malam itu, Umar mulai mengoreksi dirinya sendiri setelah Al-Qur`an meninggalkan bekas dalam hati dan jiwanya. Akan tetapi, bagaimana ia masuk Islam, sedang ia adalah seorang Quraisy dari bani Addi, seorang juru bicara kaumnya, manusia yang mempertahankan keras adat dan tradisi-tradisi kaumnya. Hal inilah yang menjadikannya sedikit terlambat masuk Islam. Karena Allah S.w.t. menginginkan kebaikan baginya, maka masuklah ia ke dalam agama Islam dan ikutlah ia pada Rasulullah S.A.W.(Wahyu Widodo)

Sumber : Dari berbagai sumber

No comments

Powered by Blogger.